Kamis, 18 Juni 2009

Menjelajahi Gunung Batur

Trekking atau mendaki gunung adalah salah satu aktivitas wisata alam yang cukup mengasyikkan. Jenis aktivitas ini membuat wisatawan menjadi lebih dekat dengan alam. Di Bali cukup banyak jalur trekking yang dapat dinikmati oleh wisatawan Semua jalur tersebut menawarkan keindahan yang menawan dan menantang bagi para pendaki. Kini, mendaki gunung Batur sudah menjadi bisnis wisata yang mendatangkan gemerincing dollar. Mendaki gunung Batur telah dipilih sebagai tantangan terbaru di Pulau Bali,

Aktivitas mendaki gunung Batur bukanlah sesuatu yang baru. Wisatawan lokal sudah melakukannya sejak awal 1980-an. Dahulu pendakian gunung Batur tidak lebih hanya sekedar hoby akan tetapi kini, mendaki gunung Batur sudah berkembang menjadi bisnis wisata yang banyak mendatangkan gemerincing dollar. Berkat promosi yang gencar, saat ini mendaki sudah menjadi maskot wisata gunung Batur. Dan tidak hanya mendaki ke puncak Gunung Batur, belakangan banyak pula wisatawan yang melakukan aktivitas tracking di kawasan itu.

Kebanyakan orang mendaki gunung Batur pada dinihari, sekitar pukul 03.00 Wib. Setelah mendaki sekitar dua jam, selanjutnya menunggu matahari terbit di puncak gunung. Rata-rata 50 orang setiap harinya berkumpul di puncak untuk mengikuti ritual menunggu sunrise itu. Akhir pekan, justru lebih ramai lagi.

Jalur pendakian sebenarnya tidak begitu membingungkan. Trek pendakiannya cukup jelas. Kalaupun ada percabangan jalan, umumnya merupakan jalur menuju perkampungan maupun pertanian warga. Namun tantangan sehenarnya, adalah lintasan yang terdiri dari pasir dan bebatuan. Batu-batu itu merupakan endapan lahar gunung yang telah membeku.Mendaki pada pagi sekitar pukul 09.00 Wib, panas sudah menyengat kepala. Topi dan kacamata hitam sangat membantu mengatasi terik matahari. Terkadang hembusan angin juga membawa serta debu yang kadang berputar membentuk seperti angin puyuh. Berputar sebentar lantas berpendar lalu hilang.


Kalaupun tidak membawa minuman, sekitar 10 menit dari titik pendakian terdapat sebuah warung. setengah jam perjalanan lagi dari warung ini, akan ditemukan satu warung lainnya. Beragam minuman dan makanan ringan tersedia. Tetapi harga memang di atas rata-rata. Seusai melewati warung kedua, tidak akan ada lagi pepohonan penahan panas. Hanya semak perdu dan sesekali pohon pinus setinggi dua meter yang berdiri tunggal. Berteduh di sini sebentar memang sangat disarankan. Untuk sekadar melepas lelah.

Danau Batur terlihat indah dari ketinggian, kalau saja kabut tidak menghalangi pandangan. Danau menjadi demikian indah dengan komposisi Gunung Abang di belakangnya. Namun, kabut tipis sering kali menghalangi kejernihan pandangan ke arah danau. Tanjakan yang miring serta lintasan yang berpasir, memang cukup berat untuk dilewati. Tetapi berjalan perlahan dengan tetap berhati-hati, akan membawa kita ke pinggangan gunung. Dengan stamina yang normal, pinggangan gunung ini dapat ditempuh sekitar satu setengah jam saja dari titik pendakian.

Pinggangan gunung ini merupakan tempat yang relatif datar. Ada tiga warung yang bisa didatangi untuk sekedar istirahat. Di sekitar pinggangan ini, dapat terlihat Kawah Batur dengan diameter sekitar 400 Meter. Kedalamannya tak kurang dari 100 meter. Turun melalui jalur curam ke dalam kawah, dapat ditemukan sumber air panas dan cekungan air tawar. Dinding-dinding puncak cukup memikat. Paduan beragam warna yang akhirnya membentuk warna kehitaman. Dari sini dapat terlihat ada dua puncak.

Di sebelah timur merupakan puncak sebenarnya yang ditandai dengan sebuah tiang kayu dengan bendera di ujungnya. Sementara di sebelah barat merupakan puncak satu lagi. Mendaki ke puncak jalanan menjadi lebih terjal. Kemiringan mencapai 70 derajat lebih. Pasir menjadi lebih dominan. Puncak itu sendiri berupa dataran seluas sekitar 10 meter persegi. Di bagian tertinggi, terpancang tiang bendera.

Berdiri di puncak, mata dapat memandang luas. Kita bisa menatap Bali hampir menyeluruh. Di selatan merupakan kawasan Kintamani. Di sebelah timur terlihat Danau Batur, terus di belakangnya Gunung Abang dan Gunung Agung. Ketiganya membentuk titik paralel dari yang terendah, hingga tertinggi, yakni Gunung Batur yang terendah dengan ketinggian 1.771 meter dari permukaan laut (mdpl), kemudian Gunung Abang di ketinggian 2.152 mdpl, serta Gunung Agung yang berada pada ketinggian 3.142 mdpl, gunung tertinggi di Bali.

Jalan menuju pulang, sebaiknya menggunakan jalur yang berbeda. Selain untuk memperkaya pandangan, juga mengindari kebosanan. Baiknya memilih jalur menuju Desa Toyo Bungkah. merupakan bahasa setempat. Toyo artinya air dan bungkah berarti batu. Jadi Toyo Bungkah berarti air yang mengalir dari celah-celah bebatuan. Desa ini persis di tepian Danau Batur.Titik awal turun itu, persis di belakang warung yang berada di puncak. Jalurnya tidak terlalu ekstrim. Sepanjang perjalanan akan dapat ditemukan pohon perde eideilweis. Tumbuhan khas pegunungan yang bunganya tidak pernah layu. Jarak tempuh hingga perkampungan sekitar satu jam. Sekitar 20 menit menjelang sampai, akan dilewati hutan pinus.


Wisata Batur di Bali memang lengkap. Pendakian ke Gunung Batur dapat diakhiri dengan mandi di Danau Batur. Di antara proses mendaki dan mandi itu, bisa menyaksikan pemandangan yang menakjubkan.

Keistimewaan Gunung Batur
Menurut para wisatawan yang sudah berkali-kali mendaki gunung ini, Gunung Batur mempunyai sejumlah keistimewaan yang tidak dimiliki banyak gunung lainnya, termasuk gunung yang ada di negeri mereka. Gunung Batur sudah dikenal sejak lama sebagai tempat mendaki Sekitar tahun 1980-an, para pelajar dan mahasiswa pecinta alam, kerap melakukan pendakian ke puncak gunung ini. Pada mulanya, para mahasiswa mendaki Gunung Batur di siang hari. Itu pun mereka lakukan sekadar hobi untuk mencari bunga edelweis sebagai oleh-oleh. Tapi kemudian, mereka 'ganti haluan' dengan mendaki Gunung Batur pada dini hari untuk menikmati indahnya sunrise. Dahulu, wisatawan yang ingin mendaki Gunung Batur biasanya memulai perjalanan dari Denpasar sebelum Subuh, kemudian mendaki pada pagi hari.
Mendaki gunung tertinggi di Bali itu kini sudah kesohor sampai mancanegara. Untuk mencapai Gunung Batur, wisatawan tak perlu lagi memulai perjalanan dari Denpasar. Kini, mereka bisa mengawali perjalanan langsung dari Toyabungkah. Ini adalah desa yang berada di tepi Danau Batur. Tahukah Anda, desa ini dipilih sebagai tempat beristirahat oleh tokoh Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisyahbana (STA).


Tips perjalanan menuju puncak gunung Batur
Untuk mendaki Batur ada empat jalur yang bisa dipilih. Tetapi para pendaki kebanyakan memulainya dari Pura Jati, salah satu pura terbesar di kawasan ini. Titik pendakian ini masuk dalam wilayah Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Jaraknya sekitar 78 kilometer dari Kota Denpasar. Kendati ada transportasi reguler menuju Kintamani, namun cara termudah menuju ke sana adalah menyewa kendaraan. Di Kuta, tarif sewa sepeda motor Rp 50 ribu selama 24 jam, sementara mobil Rp 300 ribu. Namun harga itu masih bisa ditawar. Syarat sewa cukup meninggalkan identitas pengenal diri dan bayar cash di depan. Perjalanan menuju Kintamani sekitar dua jam. Seterusnya, dari Kintamani melewati jalan menurun menuju Desa Batur.

Kalau mendaki mulai dari Pura Jati, parkir kendaraan bisa dilakukan di kanta Pos Pelayanan Pendakian Gunung Batur yang juga kantor The Association of Mt Batur Trekking Guide. Di sini tempat para guide pendakian berkumpul. Tarif pemandu antara Rp 150 ribu hingga 250 ribu, bergantung banyaknya rombongan maupun kemampuan tawar menawar.

Sediakan senter dan batu batere cadangan. Bawa pula jaket dan jas hujan. Kendati hujan jarang turun, namun untuk antisipasi, ada baiknya dipersiapkan. hujan juga bisa dimanfaarkan untuk jaket, menahan suhu dingin yang mencapai 15 °C.
Wisata alam Trekking atau mendaki ke Gunung Batur disaat dini hari dapat membuat anda memperoleh pengalaman yang berbeda dan akan terbayarkan dengan terlihatnya matahari terbit atau sunrise.

Trekking atau mendaki di Gunung Batur Bali adalah sebuah sensasi yang luar biasa karena dilakukan pada saat dini hari untuk mendapatkan sunrise atau matahari terbit dari puncak Batur plus pemandangan danau Baturnya. Juga wisatawan akan disuguhkan pemandangan gunung Agung plus puncak Rinjani yang ada di Lombok.

Sampai di puncak menjelang matahari terbit di timur sambil menikmati minum kopi atau teh panas. Nikmati keindahan matahari terbit di ufuk timur di sela sela gunung Rinjani lombok. Dari atas gunung Batur ini dapat pula kita lihat pemandangan danau Batur, kawah Batur, gunung Agung, lahar yang telah dingin, gunung Rinjani dan perbukitan yang luas. Setelah menikmati matahari terbit perjalanan dilanjutkan dengan naik ke puncak yang lebih tinggi guna demo memasak telur atau pisang pada air panas yang di keluarkan oleh Gunung Batur. Tour akan berakhir setelah makan siang di restaurant yang banyak terdapat di Kintamani.
Harga untuk 1 kali trip Rp. 520.000,- /per orang. Termasuk: Transfer dari dan ke hotel, guide, lampu penerangan selama pendakian, air mineral, buah, tiket masuk objek air panas dan menggunakan pemandiannya, sumbangan dan makan siang.

Juga Tersedia Paket Menginap Harga : Rp. 750.000/per orang. Minimal 2 orang.
Termasuk: Transfer dari dan ke hotel, minuman selamat datang, makanan ringan, makan malam, soft drink, guide, lampu penerangan selama pendakian, air mineral, 1 kamar standard (twin atau double untuk 2 orang), makan pagi ala Gunung, buah, tiket masuk objek air panas dan menggunakan pemandiannya, sumbangan dan makan siang.
Komang Harditya Putra
nim : 0891061023
Program Pasca Sarjan
Kajian Pariwisata

saran dan kritik sangat di perlukan demi kemajuan pariwisata Kintamani.....!!!!

GuS Min

Salam Dari Anak GODEL Batur,

agusmin85@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar